BLACK MY LIFE

NASCHEL feat RIMBA

Posted by: cmot1234 on: Februari 15, 2008

”Don`t you cry tonight…”
”Please, matikan Chel… kamu bukan Axl Rose!”
Naschel tak mematikan lagu itu, hanya mengecilkannya. Sambil terus menyetir mobil dan tetap diam. Aku matikan AC mobil, dan kubuka kacanya. Kuambil rokok putihku dari dalam tas, kupantikkan korek api. Kuhisap dalam-dalam, kuhembuskan kuat-kuat asap rokokku.
Kebisuan malam, senyapnya jalan, semakin memiriskan gelisahku karena pertengkaran-pertengkaran kami selama ini, tak pernah ada kata bagus buat menyelesaikannya. Bagiku, egosentris Naschel sebagai anak tunggal sudah sangat keterlaluan. Dan aku tak akan pernah bisa untuk terus mengalah, mengerti dan pahami semua sepak terjangnya. Pacaran model apa ini. Tak pernah ada waktu yang indah buat bersama, membuang penat pikiran, menyegarkan hati dan rehatkan jiwa, karena katanya ada cinta diantara kami. Kalau sudah tegang syarafku, selalu begini jawaban dia, ”Ya, kalau kamu belum bisa menerimaku seperti ini, mau gimana lagi? Terserah kamu darling…”
Sebuah kalimat penyerahan, yang sangat dangkal! Sungguh menyebalkan!
”Aku masih ingin mewujudkan semua obsesi-obsesi bisnisku. Batubara, hotel, dan kelapa sawit. Tolong, bantu aku.”
”Sampai kapan kamu bercinta dengan alam? Berburu ke hutan, motret, off road! Bisnis dan hobby sebagai alasan kuat untuk menghilangkan senggangnya waktu buat merawat cinta yang telah bertunas dan tumbuh!”
Balasku, sambil kubuka pintu mobil yang telah berhenti di depan pintu menara apartemen-ku. Namun tiba-tiba, tangan kananku ditariknya.
”Darling, maafkan aku. Aku masih sayang kamu…”
Segera kulepaskan pegangan tangan kirinya. Kutatap tajam matanya. Kutepis tangan kanannya yang ingin memegang pipi kiriku. Aku segera turun dari mobil, buru-buru masuk ke pintu menara.
”Shiiit!” Lamat-lamat kudengar kalimat kesal Naschel.
Tak tahan, aku menangis di depan lift. Duh! Lama banget sih ini lift. Tak terasa air mataku terus mengalir. Namun buru-buru aku usap dengan tangan kananku, karena ada sepasang mata, terasa tajam menatapku. Aku tak meliriknya sedikitpun, aku merasa jengah. Segera kulangkahkan kakiku menuju lift yang telah terbuka. Diikuti lelaki yang sangat kurasa, begitu memperhatikanku malam itu. Dia menekan tombol 19. Berarti satu lantai denganku.
Terdengar November Rain-nya Guns`n Roses, kuambil HP-ku dari dalam saku tas. Namun, karena lamunku atau kecerobohanku, HP itu jatuh berantakan di lantai lift. Aku jadi panik, tiba-tiba lelaki di sampingku itu membantuku memunguti HP-ku yang tercerai berai, isi, baterai, dan casing-nya. Tanpa berkata apapun dia berikan semua yang telah dia punguti. Ketika pintu lift terbuka, dia pergi begitu saja. Aku masih terpana menatap wajahnya yang begitu dingin, tertutup sebagian rambut shaggy sebahunya. Cuek, tanpa menatapku lagi. Lalu aku ikuti langkahnya. Aku mau mengucapkan terima kasih. Namun dia terburu-buru menutup pintu kamarnya, yang ternyata persis di sebelah kanan kamarku.
Jadi dia orang baru? Atau aku yang nggak gaul ya? Ah masa bodoh. Napa aku mesti mikirin dia? Hmm, tapi, dia…keren banget! Jaket kulit hitam, sepatu boots, tingginya sekitar 180an. Atletis pula. Siapa dia ya? Rasanya sudah 3 kali ini kami bertemu dalam satu lift. Namun, aku tak pernah memperhatikannya selama ini. Kupikir samalah, dengan tetangga yang lain. Cuek habis. Tapi, malam itu, kok kayaknya lain ya? Human interest-nya, tiba-tiba menarik-narik benang hatiku, yang mulai kusut karena pertengkaranku dengan Naschel malam itu.

*********

SAPA PAGI

Duh! Krang kring! Siapa sih pagi-pagi gini sudah sok nyapa. Kuangkat telepon kamarku dengan malas.
”Ya…sapa nih?”
”Darling…HP-mu kok nggak aktif? Jalan yuk, sejam lagi ya aku jemput.. ” Belum sempat aku jawab, dia sudah mematikan telepon. Itulah kebiasaan dia yang tak kusuka. Begitu mudah memutuskan sesuatu menurut keinginannnya sendiri, tanpa menunggu opiniku. Sebaliknya, di saat aku ingin share sesuatu tentang masalah-masalah pekerjaan dan masa depan hubungan kami, dia terlalu sering bilang, ”Ntar ya aku telepon balik. Masih meeting, masih di jalan, masih di hutan, atau masih di tambang, bla, bla, bla…”
Sungguh menjengkelkan. Namun aku masih sangat berat memutuskan hubungan cinta ini. Karena aku masih punya cinta buatnya.
Dengan malas, aku bangun, kulihat jam weker di meja kerjaku, di samping kanan tempat tidur. Jam 9. Kuseret dengan berat kakiku menuju kamar mandi, setelah sebelumnya kuhidupkan HP-ku yang baru saja kuperbaiki, kurangkai lagi. Alhamdulillah, dia mau kembali hidup normal.
Setelah nampak rapi dengan celana blue jeans ketat dan t-shirt junkies polos, warna kunyit busuk, kuambil tas kain putih, kusilangkan ke dadaku, kupakai sepatu kets senada dengan t-shirt-ku. 10 menit, 40 menit, 90 menit, 120 menit berlalu, tak juga dia hubungi aku. I hate wait you Naschel! Always!
Tiba-tiba bel kamarku berbunyi. Pasti dia, ya sudahlah nggak papa, kali ini aku maafkan. Segera kubuka pintu kamar. Namun alangkah terkejutnya aku, karena sosok yang berdiri di depanku lelaki atletis, tetangga baruku itu.
Wajahnya cool, sorot matanya tajam, begitu saja menelusupi kegugupanku pagi itu. Suara beratnya, terdengar datar sekali berucap,” Buatmu…tks.”
Dia berikan serangkai bunga mawar merah. Kemudian dia pergi begitu saja, diriku mematung, tak bisa berucap apapun, hanya bisa memandang punggungnya yang berjalan menuju lift, lalu menghilang, masuk ke dalam lift.
”Darling, kenapa kamu? Dari siapa bunga ini?”
Suara Naschel telah membuyarkan ketertegunanku, tiba-tiba dia sudah berdiri di depanku. Aku tergagap, kembali tak bisa berucap apapun. Aku hanya menatapnya sejenak, lalu aku masuk ke dalam kamar apartemen, diikutinya.
”Maaf, tadi traffic jump…”
Kuacuhkan kalimat-kalimatnya, aku terus pandangi rangkaian mawar merah ranum itu, kutimang, dan aku tersenyum. Romantis sekali dia…batinku. Tanpa kurasa, Naschel mulai gusar karena aku mengacuhkannya.
”Darling, ada apa sih dengan bunga ini? Dari siapa?!”
”Dari seseorang, tetangga baru. Romantis ya?” Tiba-tiba mengalir begitu saja jawabanku, tanpa peduli kalimat itu sangat tak mengenakkan Naschel.
”Seorang cowok?!” Nada tanyanya makin tinggi. Aku menganggukkan kepalaku, sambil masih terus kupandangi lekat-lekat mawar-mawar itu.
”Jangan Naschel! Napa sih kamu kasar? Apa salah bunga ini?” Naschel dengan kasar merebut dan membuangnya ke tempat sampah. Aku segera memungut bunga itu. Naschel menahan kedua tanganku.
”Lepas! Lepaskan Chel!”
Nggak tahu kenapa, hatiku begitu sakit, melihat bunga itu dibuangnya. Tanpa aku pedulikan siapa lelaki itu, siapa Naschel. Pegangan Naschel tambah kuat, aku meronta. Lalu dipeluknya aku erat-erat, hingga dadaku sesak, tak bisa bernafas lega.
”Darling…please. Ada apa denganmu? Kamu lebih berat bunga itu daripada aku?”
Hatiku kosong, tak bisa merasakan apa yang menimpaku siang itu. Ada apa denganku? Hampa saja yang kurasa, pelukan Naschel, lelaki yang dulu begitu kupuja karena macho-nya, pejuang tangguh buat semua obsesi-obsesinya. Namun kekaguman itu jadi kian terkikis, karena nyatanya aku tak pernah bisa mengerti atas waktu-waktunya yang makin hilang buat kebersamaan kami. Merawat cinta kami.
”Jawab darling…please.”
Aku tetap bungkam, sulit sekali mengeluarkan abjad demi abjad dari bibirku, yang sepertinya telah kelu, terkatup bayang-bayang lelaki misterius itu. Lalu Naschel melepaskan pelukannya. Dia pegang kedua pundakku, ditatapnya mataku, namun segera kubuang tatapku ke lantai ruang tamu. Dia melepaskan pegangannya perlahan-lahan, diciumnya tangan kananku.
”Ya sudah…aku ternyata bukan lelaki romantismu…”
Kemudian dia melangkah menuju pintu, keluar, dan menutupnya dengan pelan. Aku mulai merasakan kesakitannya. Namun satu sisi hatiku bilang, biarin saja. Rasain. Dia baru merasakan memiliki setelah kehilangan!
Siang itu, aku tak begitu peduli lagi dengan Naschel, yang telah memacariku selama 2 tahun, karena rasanya aku tak pernah bisa memiliknya. Pikiranku terus ke lelaki misterius, yang ternyata bernama Rimba. Kuketahui namanya, dari satpam apartemen. Sebuah nama yang sangar, kuat, dan bagus. Semoga sebagus orangnya. Hmm, tiba-tiba aku membanding-bandingkannya dengan Naschel. Padahal, sungguh, baru beberapa jam yang lalu tahu sosoknya, bahkan kenal saja belum. Gila! Biarin ah. Gambling. Tetangga pula. Pasti lebih bisa sering ketemu. Dah ge er banget aku. Karena rangkaian bunga mawar merah, yang dia berikan tadi pagi. Merah, lambang cinta. Semoga.

*********

ANGIN MALAM

Lelaki misterius, sebulan sudah aku menunggu sapamu, menantimu tanpa kepastian untuk apa. Kemana dan dimana kamu?
Kupandangi, gemerlap lampu-lampu yang terangi jalan di jagad Jakarta, sambil berdiri di balkon kamarku. Seperti malam-malam yang lalu, pandanganku selalu terarah ke balkon kamar Rimba. Tak seperti biasanya, malam itu, angin bertiup begitu kencang. Sekencang rinduku pada sosoknya.
Tatapku di remang malam itu, tiba-tiba tertangkap mata Rimba, yang sepertinya telah lama memperhatikanku. Terima kasih Tuhan, akhirnya kau pertemukan juga kami malam ini.
Aku terus menatapnya, ingin kusapa, kubuang senyum, namun begitu dingin wajahnya, beku. Aku jadi mengurungkan niatku. Ingin sekali aku berkenalan dekat lagi, karena terus terang, aku sudah terpesona dengan dia. Aku ingin tahu lebih jauh, siapa dan apa pekerjaannya. Belum sempat aku berpikir mencari cara buat menyapanya. Tiba-tiba dia telah menghilang, masuk ke dalam kamar apartemen.
Aku terpaku diam, misterius amat sih nih orang? Ingin rasanya aku bertamu ke kamarnya. Tapi, apa alasanku? Pantaskah? Namun, jangan sebut Amanda, kalau tak punya nyali untuk mewujudkan keinginannya, Taurus, selalu begitu kalau punya keinginan.
Aku segera keluar dari kamar, dengan hati penuh bunga, degh-deghan, ku tekan bel kamar Rimba tanpa ragu. Berkali-kali kutekan, tiada jawaban. Tak terasa sudah 1 jam aku berdiri di depan pintu kamar no. 3 itu. Aku makin penasaran. Kuketuk keras-keras pintunya. Tak ada jawaban apapun. Hingga aku dikagetkan Pak Najib, satpam apartemen yang sedang jaga keliling.
”Mbak Manda? Sudah jam 12 malam belum tidur? Sedang apa di situ?”
Aku gugup banget, tak bisa bergerak. Sampai pak Najib menghampiriku.
”Cari siapa mbak? Kamar 3 ini kosong, sudah 1 bulan yang lalu?”
Wajahku menciut, dahiku mengernyit. Jika aku bercermin saat itu, mungkin wajahku nampak tanpa mata, alis, hidung, dan bibir. Rata putih, pucat pasi.
”Mas Rimba kan sudah nggak ada.”
Mataku terbelalak. Gemuruh ribuan tanya ingin segera keluar dari bibirku, kutatap lekat-lekat wajah berjerawat pak Najib.
”Lho?! Dimana dia sekarang pak? Pergi kemana dia?”
”Mbak, dia kan sudah meninggal 1 bulan yang lalu. Kecelakaan di arena balap mobil.”
”Haaah?!”
”Mbak sih, sibuk syuting ke luar kota terus. Jadi nggak tahu berita tetangga sendiri. Dia baru saja menempati kamar ini seminggu, sebelum kecelakaan itu.”
”Jadi… dia tadi? Oh, God!”
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Merinding semua kulitku, terlihat kuyu, terasa layu. Aku segera masuk ke dalam kamar. Meninggalkan pak Najib sendiri, yang nampak begitu bengong melihatku. Segera kuambil HP dari saku celana blue jeans selututku. Aku tiba-tiba teringat Naschel, kutelepon dia.
Hanya terdengar Always-nya John Bon Jovi. Lama nggak diangkat-angkat. Aku makin gelisah. Angkat Chel, angkat! Batinku menjerit. Sampai lagu hampir habis, dia baru angkat telepon.
”Darling…”
”Chel, jemput aku malam ini di apartemen. Aku ingin tidur di apartemen kamu!”
”Darling, syukur kamu masih mau hubungi aku. I`m sorry. Malam ini aku masih di Kutai, di hutan, berburu…”
Langsung kumatikan HP. Aku terduduk lemas di sofa ruang tamu. Aku pandangi rangkaian bunga mawar, di vas bunga, di atas meja, yang telah berwarna cream, begitu kering. Apa artimu bagiku? Aku sangat menyesal. Namun menyesal untuk apa dan siapa?
Cinta tak akan pernah selesai, begitu abstrak, membuat tanya yang terus melingkari hati. Maka, cinta tak perlu diujar, apalagi dikejar, dia akan sendiri berpijar, kalau kita telah pahami, bahwa cinta itu ternyata memiliki akar…DIA!

3 Tanggapan ke "NASCHEL feat RIMBA"

Maria…………….g mau kash komentar nich bwt blog u??

hehehe,,g cm mau blg klo blog u qeeren lho…

mau donk di ajarin caranya ganti tema??

wrna tema d blog u, g suka…HITAM gtu lho,,hehehe

mkanya g mw gnti tema blog g….byar jd qeren ky blog u….hohoho

oche…^_^

haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aq Sintia XI IPS 2. Blog u uda qren. Tp lagu-lagunya kurang banyak nich. U masukin aliran lagu kesukaan loe aja biar tambah keren……………….oc??????

cerita lu seru dan menarik banget n menambah pengetahuan n hal hal yang terjadi di sekitar kita .

Tinggalkan Balasan

href="http://www.ayongeblog.com/">
Search Engine Optimization and SEO Tools

a

 

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 406 hits